Memahami Ketemuq “Bertemunya Frekuensi” dalam Tradisi Sasak
Oleh speakerkampung
Juli 10, 2026
Memuat...
Memahami Ketemuq “Bertemunya Frekuensi” dalam Tradisi SasakOleh: HGR
Di Lombok, kalau ada orang tiba-tiba pusing, demam, atau badannya lemas tanpa sebab medis yang jelas, orang tua-tua biasanya bilang. “Oh, ketemuq dia itu.”
Kata ketemuq berasal dari kata ketemu. Tapi ironisnya, tidak banyak dari kita yang benar-benar paham: siapa yang ketemu? di mana ketemunya? dan kenapa harus sakit?
Apa Itu Ketemuq Versi Orang Sasak? Yang dipahami kebanyakan masyarakat Sasak hari ini adalah ketemuq itu sakit yang disebabkan oleh makhluk gaib.
Bukan salah makan. Bukan masuk angin. Tapi “ketemu” dengan sesuatu yang tak kasat mata. Biasanya arwah orang yang sudah meninggal dunia.
Penjelasan para tetua menyebutnya sebagai “bertemunya frekuensi” antara orang hidup dan orang yang sudah meninggal. Ketika frekuensinya “tabrakan”, maka tubuh yang hidup lah yang kalah. Tanda-tandanya klasik, tiba-tiba pusing, sakit kepala berat, demam mendadak, badan pegal semua.
Lalu Diobati dengan Apa? Jawabnya adalah Bertuq. Setelah divonis ketemuq, langkah selanjutnya adalah bertuq.
Bertuq adalah ritual pengobatan tradisional Sasak. Caranya unik. Orang yang dianggap lebih tua menarik helai rambut orang yang sakit di bagian kepala paling atas. Sambil membaca doa-doa. Tujuannya untuk “melepaskan” ikatan energi atau frekuensi yang nyangkut tadi.
Bagi sebagian orang ini terdengar mistis. Bagi sebagian lagi, ini adalah bentuk psikologi tradisional. Karena setelah bertuq, sugesti “sudah lepas” itu membuat badan terasa lebih ringan.
Tradisi, Bukan untuk Dilawan, Tapi Dipahami. Saya tidak sedang mengatakan ketemuq itu ilmiah atau tidak. Saya juga tidak menyuruh menolak ke dokter.
Tapi yang ingin saya katakan, ketemuq adalah bahasa Sasak untuk menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata medis.
Dulu, sebelum ada lab dan tensi, orang Sasak butuh istilah untuk “sakit mendadak tanpa sebab”. Maka lahirlah ketemuq. Dan lahirlah bertuq sebagai cara menenangkan.
Masalahnya, hari ini banyak generasi muda yang malu dengan tradisi sendiri. Dibilang “kampungan”. Padahal di dalamnya ada 3 nilai penting:
Pengakuan pada alam gaib. Kita diajarkan hormat pada leluhur dan tempat.
Penyembuhan holistik. Sakit tidak hanya fisik, tapi juga batin dan energi. Kearifan lokal Bertuq mengajarkan kita untuk “menarik” pelan-pelan, bukan memaksa.
Mungkin benar, ketemuq adalah bertemunya frekuensi. Mungkin juga hanya istilah untuk penyakit yang belum kita pahami.
Tapi satu hal yang pasti, selama orang Sasak masih percaya, selama bertuq masih menyembuhkan rasa takut, maka tradisi ini layak kita jaga. Bukan untuk menggantikan medis, tapi untuk melengkapi.
Karena menjadi orang Sasak bukan hanya soal bisa ngeno. Tapi juga soal paham, kenapa nenek kita dulu kalau demam mendadak, bilangnya “ketemuq”.
Bagaimana menurut semeton? Masih percaya dengan ketemuq? Atau sudah beralih 100% ke Puskesmas?

Komentar