Ketika Ritual Minta Hujan Bertemu Seni yang Hampir Punah
Sebuah opini tentang hilangnya warisan budaya dan ruang dialognya di tengah zaman. Ia adalah tari begeroq, sebuah atraksi turun temurun pada komunitas masyarakat Desa Ketangga Kecamatan Suwela-Lotim.
Warisan yang Hanya Hidup di Ingatan
Tari Begero dari Desa Ketangga, Kecamatan Suwela, Lombok Timur, kini tinggal cerita. Tidak ada lagi pementasan, tidak ada lagi barisan penari perempuan yang bergerak tanpa seragam khusus di lapangan Gedeng Masjid Pusaka Desa Ketangga. Yang tersisa hanya tuturan para tetua, disampaikan turun-temurun seperti api kecil yang dijaga agar tidak padam.
Kisah ini penting bukan karena tariannya yang megah, tetapi karena ia mewakili banyak tradisi lisan di daerah yang hilang tanpa sempat didokumentasikan. Ketika sebuah ritual berhenti dipraktikkan, yang mati bukan hanya gerak tari. Yang hilang juga cara masyarakat dulu membaca alam, meminta hujan, dan kebersamaan.
Ritual, Hiburan, dan Keberanian Bercanda
Yang membuat Begero unik adalah perpaduan fungsi, ritual minta hujan sekaligus hiburan rakyat. Dilakukan saat kemarau panjang, tarian ini dipimpin oleh seorang perempuan, diiringi paduan suara lelakak Sasak yang dinyanyikan laki-laki.
Dan di dalamnya terdapat keunikannya, lirik lelakak itu sarat dengan kalimat-kalimat vulgar yang tidak lazim di ruang publik. Tapi justru di situlah kekuatan sosialnya. Humor kasar itu memecah ketegangan, memancing tawa, dan membuat penonton bertahan hingga ritual selesai. Bagi masyarakat saat itu, kesakralan dan kelucuan tidak boleh bertentangan. Keduanya bisa berjalan bersama untuk memperkuat harapan akan hujan.
Mengapa kita perlu berdiskusi tentang Tidak Lazim?
Banyak orang akan merasa senang mendengar lirik vulgar yang disebut sebagai bagian dari ritual. Tapi jika kita memotong bagian itu, kita juga memotong konteks budaya di mana Begero hidup. Nilai sebuah tradisi tidak selalu bisa diukur dengan standar kesopanan hari ini.
Menghidupkan kembali diskusi tentang Begero bukan berarti kita harus menambalnya lagi. Tapi dengan produksi secara terbuka, kita belajar bahwa budaya Sasak dulu punya cara sendiri untuk menyeimbangkan spiritualitas, kritik sosial, dan hiburan. Itu bentuk kecerdasan kultural yang patut dicatat.
Apa yang kita rasakan ketika kehilangan tradisi mati?
Tari Begero eksis antara tahun 1960-1980an, di Gedeng Pusaka Desa Ketangga. Setelah itu ia redupkan. Sifatnya yang sederhana: modernisasi, perubahan cara bertani, masuknya media baru, dan rasa malu terhadap unsur yang dianggap “tidak pantas”.
Masalahnya, ketika satu tradisi mati, kita kehilangan satu cara untuk memahami bagaimana nenek moyang kita menghadapi krisis iklim lokal. Mereka tidak punya BMKG, tapi punya tari, lagu, dan komunitas yang bergerak bersama meminta hujan. Itu adalah modal sosial yang sekarang sulit diganti.
Apakah penting untuk mendokumentasikan sebelum lupa. Bahkan akan hilang dari tuturan turun temurun.?
Tari Begero mungkin tidak bisa dihidupkan kembali dalam bentuk aslinya. Tapi ceritanya layak ditulis, direkam, dan didiskusikan. Bukan untuk menormalisasi vulgaritas, tapi untuk memahami konteks.
Jika kita terus menganggap tradisi seperti ini “hanya cerita belaka”, maka satu per satu ingatan kolektif desa akan hilang. Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan tarian. Kita kehilangan cara berpikir, cara tertawa, dan cara berharap dari sebuah komunitas.
HGR

Komentar