Breaking News
Memuat berita terbaru...

Membaca Ulang Tradisi Ngayu-Ayu Masyarakat Sasak Lewat Kacamata Ekologi

Oleh speakerkampung Mei 30, 2026 Memuat...


Lotim.SK_Tradisi Ngayu-Ayu pada masyarakat Sasak hari ini sering dianggap “asal terlaksana saja”. Tidak ada kejelasan tuturan turun temurun dari nenek nenek nenek moyang yang menjelaskan makna utamanya. Ritualnya berjalan, tapi ruhnya kabur. Akibatnya, perayaan ini terkesan keluar dari haluan yang sebenarnya. 


Ketika maknanya tidak dijelaskan, ruang interpretasi kosong. Maka muncullah anggapan, tradisi ini sesat dan tidak sesuai kaidah beragama. Padahal vonis “sesat” lahir bukan dari praktiknya, tapi dari putusnya benang merah pengetahuan di balik praktik itu.


Ngayu-Ayu sebagai Strategi Pengendalian Hama Agroekologi


Saya mencoba membedah Ngayu-Ayu dengan cara berpikir ilmiah yang diduga dipakai leluhur kita. Mari lihat rundown-nya:


Komposisi Sesajen 


Proses dimulai dari pengumpulan bahan, semua jenis makanan, rempah-rempah. Ada protein hewani, nabati, karbohidrat, aromatik dari rempah-rempah. Ini bukan menu acak. Secara ekologi, ini “umpan” dengan daya tarik kimiawi tinggi. Bau dan nutrisi lengkap sangat menarik bagi serangga dan hewan pengganggu tanaman.


Penempatan & Bambu, Daun Kelapa Muda


Bambu dan daun kelapa muda yang dihias berfungsi sebagai penanda visual dan struktur fisik. Ini menciptakan titik fokus. Hama punya perilaku fototaksis dan kemotaksis, tertarik pada bau, warna/kontras tertentu. Leluhur menaruh sesajen di satu titik agar hama berkumpul di sana, tidak menyebar ke seluruh ladang.


Target Sasaran


Isi sesajen tidak diperuntukkan untuk makhluk gaib. Ini diperuntukkan untuk hama, serangga, dan hewan pengganggu tumbuhan. Prinsipnya “trap crop” atau “diversionary feeding” yang mulai dikenal dalam pertanian organik modern. Alih-alih membunuh hama dengan racun, leluhur mengalihkan fokus hama ke sumber makanan alternatif yang sudah disiapkan petani.


Pelestarian Siklus dan Rantai Makanan


Jika hipotesis ini benar, maka esensi Ngayu-Ayu bukanlah ritual mistik, namun teknologi konservasi. Tujuannya menjaga siklus makhluk hidup agar rantai makanan tidak putus.


Pengendalian tanpa pembasmian, Hama tidak dibasmi habis. Populasinya dikendalikan dan diubah. Ini mencegah ledakan hama dan menjaga predator alaminya tetap punya makanan.


Menghormati peran ekologis, Serangga pengganggu tetap menjadi bagian dari ekosistem. Membasminya total justru merusak keseimbangan. Leluhur memahami ini melalui observasi jangka panjang.


Pertanian berkelanjutan, Tanpa sintetis, tanah dan air tetap bersih. Siklus nutrisi dari sesajen yang membusuk juga mengembalikan bahan organik ke tanah.


Kesimpulannya, Dekolonisasi Pemaknaan, yang dipraktikkan leluhur dahulu kemungkinan besar adalah ilmu ekologi terapan yang dikemas dalam simbol budaya agar mudah diwariskan secara lisan. Karena tidak ada buku teks, maka rundown acara dan sesajen jadi bahasa pengantar ilmu.


Jadi, Ngayu-Ayu tidak sesat. Yang sesatnya adalah ketika kita menjalankan ritual tanpa memahami logika di baliknya, lalu menghakiminya dari luar. Tugas kita hari ini bukan membuang tradisi, tapi mengembalikan manual book-nya, menjelaskan ulang Ngayu-Ayu sebagai kearifan lokal berbasis sains ekologi.


Dengan demikian, tradisi tetap hidup, akidah terjaga, dan sawah tetap lestari.

@European Union

Bagikan artikel ini:

Komentar Blogger

Komentar Facebook