Pemuda Patiq Rata: Saat Gendang Menjadi Doa
Oleh SAT
Maret 20, 2026
Sosial Budaya
Memuat...

Suasana tabuhan gendang bleq saat malam takbiran di Desa Pringgabaya oleh Pemuda Patiq Rata, Jumat,20 Maret 2026.
Pemuda Patiq Rata Dasan Lendang seakan mengambil alih malam itu. Semua mata tertuju pada atraksi mereka. sorot kamera tak ketinggalan. Abadikan setiap gerak. Mereka tidak sekadar meramaikan takbiran. Mereka memberi makna. Menghidupkan. Menggetarkan.
Bersama masyarakat, mereka menabuh gendang bleq. Bukan sekadar tradisi. Tapi sebagai jalan lain untuk berdoa. GEMURUH GENDANG pecah di langit malam. Bukan kebisingan. Tapi bahasa.
Malam takbiran biasanya hanya dipenuhi lantunan takbir. Tapi suguhan Pemuda Patiq Rata Dasan Lendang, takbir itu seperti menjelma. Tidak hanya terdengar. Tapi terasa.
Gendang bleq menjadi titik temu. Budaya dan agama tidak berhadap-hadapan. Keduanya saling merangkul.Tabuhan malam itu terasa berbeda. Suling mengalun lebih dalam. Seperti takbir yang bernafas panjang. Naik perlahan, lalu turun dengan khusyuk. Seperti doa yang tidak ingin segera selesai.
Lalu dentuman gendang datang.Keras. Berulang. Menghunjam. Seperti detak jantung yang diingatkan kembali fungsinya: hidup untuk bersujud. Suara petuq menyela.Tajam. Tegas. Seakan memanggil: sudah terlalu jauh melangkah, ini saatnya pulang.
Dan jemprang yang riuh,bukan sekadar pelengkap. Ia tanda bahwa kebersamaan masih utuh. Bahwa takbir bukan milik satu orang, tapi milik semua. Pemuda Patiq Rata tidak hanya menabuh.Mereka merangkai makna.
Malam itu, gendang bleq bukan lagi alat musik.
Ia menjadi doa yang dipukul.Ia menjadi takbir yang digerakkan.
Dan Dasan Lendang memberi pesan sederhana, bahwa merayakan kemenangan tidak harus selalu dengan cara yang sama. Kadang, cukup dengan satu hal: menabuh hati, agar ingat jalan pulang. (SAT)
Dan Dasan Lendang memberi pesan sederhana, bahwa merayakan kemenangan tidak harus selalu dengan cara yang sama. Kadang, cukup dengan satu hal: menabuh hati, agar ingat jalan pulang. (SAT)
Komentar