Breaking News
Memuat berita terbaru...

Cahaya di Pusara: Makna Mendalam Tradisi “Dilah Jojor” untuk Leluhur

Oleh Apriadi Maret 18, 2026 Memuat...

Mataram – Perayaan obor di Lombok, Kota Mataram, khususnya pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadan, menjadi tradisi meriah yang sarat makna spiritual dan budaya. Tradisi ini dikenal dengan sebutan “Dilah Jojor”.

Bagi masyarakat Sasak di Lombok, perayaan obor atau yang kerap disebut tradisi maleman dilaksanakan pada malam-malam ganjil, terutama malam ke-27 Ramadan. Tradisi ini masih dilestarikan oleh sejumlah warga, termasuk masyarakat Lingkungan Kebon Bawaq Barat, Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan.

Namun, perayaan di wilayah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Selain melakukan pawai obor mengelilingi gang lingkungan, warga juga melaksanakan ziarah ke makam keluarga. Setelah berkeliling, mereka menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dasan Agung Gapuk di Lingkungan Kebon Bawaq Barat. Di lokasi tersebut, para peziarah menancapkan obor di atas pusara keluarga masing-masing.

Tradisi turun-temurun ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada malam ganjil bulan suci Ramadan sebagai upaya melestarikan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.

Salah seorang tokoh agama setempat, Wildan, menuturkan bahwa kegiatan maleman biasanya dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadan. Malam tersebut diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.

"Sejak dahulu dilakukan oleh orang tua dan leluhur kami, dan terus diwariskan hingga sekarang,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Ia menjelaskan, di TPU tersebut terdapat salah satu makam awal milik Tuan Guru Ikhsan, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Makam itu dipagari dan dilengkapi dengan atap sebagai bentuk penghormatan.

Karena itu, makam Tuan Guru Ikhsan kerap dikunjungi peziarah, baik menjelang Ramadan, pada malam-malam ganjil, maupun saat Lebaran Ketupat.

Menurut Wildan, tradisi maleman “Dilah Jojor” di area pemakaman memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengantaran doa bagi arwah keluarga yang telah meninggal dunia.

Selain itu, “Dilah Jojor” juga dimaknai sebagai lambang kejujuran. Istilah “jojor” sendiri berarti jujur.

“Tujuannya agar kita yang masih hidup dapat bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana ajaran para leluhur,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Pejeruk, Lalu Bagus Afriady, mengatakan bahwa tradisi “Dilah Jojor” di Kota Mataram kini sudah mulai jarang ditemukan, kecuali di wilayah pedesaan. Ia mengapresiasi masyarakat di wilayahnya yang masih konsisten melestarikan tradisi tersebut setiap tahun.

Bagus menyebut, rangkaian kegiatan maleman “Dilah Jojor” diawali dengan zikir, doa, dan buka puasa bersama di Masjid Al-Ikhsan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu, dan ditutup dengan menyalakan obor di area pemakaman.

“Kami dari pemerintah kelurahan akan terus mendukung kegiatan ini,” pungkasnya. 



Bagikan artikel ini:

Komentar Blogger

Komentar Facebook