IPP dan Anak Yatim: Sederhana Tapi Penuh Makna
Oleh SAT
Maret 19, 2026
Memuat...
![]() |
| Foto bersama setelah santunan yatim dan piatu. |
Rabu sore, 18 Maret 2026, di Masjid At-Taubah Pringgabaya, Ikatan Pemuda Pringgabaya (IPP) tidak membuat acara besar. Mereka hanya mengumpulkan anak-anak yatim, membersihkan masjid, berbagi santunan, mendengar kajian, lalu berbuka bersama. Sederhana. Tapi justru di situlah, kehangatan itu tumbuh.
Masjid itu tampak lebih hidup.
Bukan karena ramai.
Justru karena tulus.
Sekitar 15 anak yatim datang.
Tidak banyak. Tapi cukup.
Cukup untuk membuat suasana terasa penuh.
Penuh makna.
IPP tidak ingin terlihat hebat.
Mereka hanya ingin hadir.
Empat kegiatan dirangkai.
Dimulai dari yang paling dasar: bersih-bersih masjid.
Sapu bergerak pelan.
Lap menyeka sudut-sudut yang lama terabaikan.
Anak-anak muda itu bekerja tanpa banyak bicara.
Seolah ingin mengatakan:
merawat tempat ibadah, sama dengan merawat diri sendiri.
Lalu santunan anak yatim.
Tidak besar. Tapi sampai.
Dan yang sampai bukan hanya bantuan.
Tapi juga rasa peduli.
Menjelang magrib, kajian islami digelar.
Singkat. Ringan.
Tapi cukup untuk mengingatkan—Ramadhan bukan sekadar menahan lapar.
Dan akhirnya, buka puasa bersama.
Yang sederhana.
Tapi justru paling menyatukan.
Di situlah jarak hilang.
Antara anak yatim, pemuda IPP, dan masyarakat.
Ketua umum IPP tidak berbicara panjang.
Ia hanya menegaskan satu hal:
Ramadhan adalah momentum untuk kembali merapat. Mempererat yang mulai renggang.
Menguatkan yang mulai longgar. Kegiatan ini memang kecil.
Targetnya pun hanya belasan anak yatim.
Tapi niatnya tidak kecil.
Bahkan di tengah kegiatan, ada sumbangan yang masuk.
Tiba-tiba. Tanpa direncanakan.
Artinya, ke depan, lebih banyak anak yatim bisa dirangkul.
Kegiatan ini juga melibatkan banyak pihak.
Pengurus masjid hadir. Masyarakat ikut. Pihak kepolisian datang.
Yang menarik, Kapolsek yang hadir bukan seorang Muslim.
Tapi ia tetap datang. Duduk bersama.
Mengikuti acara. Tanpa sekat.
Toleransi, kadang tidak perlu dijelaskan. Cukup diperlihatkan.
Ada yang absen?
Ada.
Pemerintah desa tidak sempat hadir.
Beberapa anggota dewan juga berhalangan.
Tapi sore itu tetap berjalan. Tetap hangat.
IPP tidak ingin ini berhenti sebagai acara tahunan.
Mereka ingin ini menjadi kebiasaan.
Kebiasaan untuk peduli.
Kebiasaan untuk berbagi.
Kebiasaan untuk tidak lupa bahwa di kampung sendiri, masih ada yang perlu dirangkul.
Sore itu memang sederhana.
Tapi dari situlah, makna sering lahir.

Komentar